Nasi Goreng, Seorang Anak laki-laki dan Bapaknya

Baru-baru ini ada yang jualan nasi goreng di deket kosan gue. Ini adalah kabar gembira untuk gue dan juga untuk semua mahasiswa yang ngekos di sekitar kosan gue secara sekarang di sekitar kosan gue dikit banget yang jualan makanan. Kalaupun ada, gue harus berjalan cukup jauh (setidaknya menurut gue) demi sesuap nasi. Selain nasi goreng juga tersedia pecel lele dan ayam goreng….pokoknye maknyus…

Gue sering makan di tempat itu, selain karena deket banget dengan kosan gue, masakannya juga cocok dengan selera gue.

Warung nasi itu dikelola oleh seorang bapak yang berusia 40 tahunan dan bersuku Jawa (gue bukannya rasis lho,hehehe) dan dalam berjualan tu bapak berkolaborasi dengan seorang anak laki-lakinya. Kolaborasi antara bapak dan anaknya ini sangat kompak, mereka saling bahu membahu satu sama lain, saling mengisi kekurangan masing-masing…duet bapak dan anak ini indah sekali seperti duet Duo Maya atau Ari Lasso-Bunga Citra Lestari, dan siapa saja yang menyaksikan langsung duet ini, pasti terkesima dan terbuai karena keindahannya. Halah…

Suatu malam, gue makan dengan memesan menu Ayam Goreng serta nasi putihnya. Ga tau kenapa bawaan gw sejak sore itu selalu aja ingin melamun. Emang sih, ciri khas gue di mata temen-temen gue adalah lamunan gue yang khas yang datang dengan tiba-tiba. Tapi ini lain, lamunan gue ga datang dengan sendiri seperti biasanya tapi datang dengan sebuah keinginan.

Gw melamun perhatikan yang jualan nasi goreng itu, seorang bapak dan anak laki-lakinya. Gue terus mengamati mereka sampai lamunan gue melayang jauh. Lamunan gue sampai pada titik di saat gue mengingat keluarga gue, terutama bokap gue.

Bokap gue karena pekerjaannya sekarang ada di Kupang, Nusa Tenggara Timur, sedangkan gue ada di Sumatera Selatan. Jelas jauh banget, apalagi Nyokap dan adek-adek gue ada di Bengkulu.

Kekompakan anak dan bapaknya ini membuat gue merasa iri dengan mereka. Tanpa sadar, air mata gue hampir aja keluar mengingat ‘kebodohan’ gue waktu keluarga gue dulu semuanya masih berkumpul di Bengkulu. Gue terkesan cuek ama mereka, misalnya, waktu bokap gue lagi cuci mobil, gue malah asyik tidur-tiduran atau nonton tipi, terus gue lebih suka habiskan waktu dengan berkumpul dan jalan-jalan ama temen-temen gue daripada keluarga gue.

Baru-baru ini gue baru tau kalau sang anak dari penjualan nasi goreng itu ternyata kuliah di luar kota. Hatiku semakin gemetaran melihat perjuangan gigih seorang bapak untuk membiayai sekolah anaknya. Gue berpikir apa yang dilakukan oleh bokap gue saat ini, sampai rela dan ikhlas berpisah dengan keluarga mungkin adalah pengorbanan yang dilakukan agar anak-anaknya bisa sekolah dan keluarganya bisa hidup dengan layak.

Sempat ada penyesalan dalam diri gue, kenapa dulu gue cuek banget ama keluarga. Padahal keluarga adalah tim pertama yang bakal berkorban habis-habisan di saat kita sedang ada masalah. Keluarga juga adalah tim pertama yang memberikan dukungan, semangat, dan doa kepada kita untuk sebuah keberhasilan kita. Gue sempat merasa bersalah dan marah pada diri sendiri karena kebodohan gue. Gue juga sempat menangis sebelum gue tidur mengingat kenangan-kenangan yang pernah gue dapatkan waktu berkumpul dengan keluarga dulu.

Gue sadar kalau penyesalan tidak akan menyelesaikan masalah. Gue harus belajar menjadi lebih dewasa dalam mengarungi kenyataan hidup ini. Dulu, waktu gue aktif smsan dengan seorang adek kelas, gue selalu berpesan dengan dia, ‘Jadi tua itu pasti, jadi dewasa itu pilihan’. Dan mungkin sekarang saatnya gue harus terapkan sendiri dalam hidup gue kata-kata itu. Gue hanya bisa berdoa agar Allah memberikan keselamatan untuk keluarga gue dan gue harus memaksimalkan kesempatan dengan baik kalau nanti gue berkumpul dengan keluarga gue.

Seorang teman gue pernah bilang kalau dia akan lebih mendahulukan teman-temannya dulu. Gue juga kurang ngerti apa maksudnya, yang jelas kalau ada orang yang lebih mendahulukan kepentingan teman-temannya daripada keluarganya, gue berpendapat bahwa dia adalah orang yang kurang waras. Bagaimana mungkin kita lebih mementingkan orang lain daripada nyokap kita yang udah susah payah mengandung, melahirkan, dan membesarkan kita tanpa pamrih serta bokap kita yang usah berjuang tanpa kenal lelah agar kita ga hidup susah.

Memang, teman itu penting karena manusia adalah Homo Socius, Makhluk Sosial. Semakin banyak teman juga semakin baik untuk hidup ini. Teman itu penting, tapi keluarga jauh lebih penting. Kita harus bisa menempatkan teman dan keluarga dalam proporsi yang imbang tanpa ’menelantarkan’ satu sama lain agar hidup ini bisa berjalan dengan efektif dan efisien. Hal inilah yang terus akan gue pelajari dan gue perbaiki dalam hidup. Karena tanpa teman, tanpa orang lain, manusia hanyalah makhluk yang tidak ada apa-apanya. Tanpa keluarga pun kita hanya seperti ayam yang kehilangan induknya.

Untuk kalian yang menganggap keluarga adalah bagian terpenting dalam hidup ini.

One Response to “Nasi Goreng, Seorang Anak laki-laki dan Bapaknya”

  1. karina Says:

    weits menyentuh banget bos. but i do agree that family is number one. karena mereka the only ones yang bisa nerima kita kekurangan kita dan akan tetap menyayangi kita no matter what.

Leave a Reply