problematika remaja
Wednesday, April 30th, 2008Rasanya, masih segar ingatan di kepala ini ketika dulu, tiga orang adik kelas pengurus OSIS datang menghampiriku yang ketika itu sedang duduk di parkiran sekolah. Mereka datang dengan membawa sebuah handycam. Ternyata mereka ingin membuat sebuah film dokumenter sebagai persembahan untuk kakak kelas saat acara perpisahan siswa XII tahun 2006. Sebuah ide kreatif yang (mungkin) terinspirasi dari sebuah film.
Salah satu dari mereka lalu bertanya kepadaku, “Kak, permisi. Kak, menurut kakak, cinta itu apa?”
Dengan sedikit kebingungan karena yang ditanya adalah masalah cinta (coba tanya masalah hidrokarbon, bilangan oksidasi, persamaan linear, dan pola-pola hereditas, pasti jadi lebih bingung, hehehe), aku mencoba menjawab pertanyaan mereka dengan bijak.
“kalau menurut kakak, cinta itu adalah sebuah rasa yang membuat kita untuk terus melakukan sesuatu dan berkorban dengan sebaik mungkin serta sulit melepaskan hal-hal yang kita cintai dari diri kita, seperti cinta orang tua, cinta agama, dan cinta tanah air. Jadi, dengan perasaan cinta itu, kita akan beranggapan kalau orang tua, agama, dan tanah air adalah bagian dari hidup kita yang tidak bisa dilepaskan dari jiwa kita ini.”
Sedikit diplomatis memang. Dan mungkin saja mereka pada waktu itu kurang puas dengan jawabanku karena setelah menonton film hasil buatan adik-adik kelasku itu, aku baru tahu kalau cinta yang mereka maksud adalah cinta yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, cinta sepasang anak manusia yang masih remaja dan konon katanya sesuatu yang harus up to date serta menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan remaja modern. Sebuah anggapan yang timbul karena suksesnya perang pemikiran dari kaum Barat terhadap remaja Islam.
Dalam keseharian, tampaknya memang benar kalau remaja sekarang sudah dibebankan dengan tugas baru. Tugas itu adalah tugas yang berkaitan dengan masalah cinta terhadap lawan jenis. Dan sekali lagi memang benar kalau untuk hal yang satu ini sudah tidak bisa lagi dilepaskan dari jiwa para remaja kebanyakan.
Aku sendiri juga tidak tahu apa penyebabnya. Kenapa dunia remaja identik dengan virus pink. Jawabannya mungkin ada di buku Biologi untuk kelas XI atau XII SMA. Di buku Biologi tersebut mungkin disebutkan hal ini merupakan akibat dari pengaruh hormon yang diproduksi tubuh seseorang ketika berada dalam masa puber. Wallahualam
Sebenarnya, aku juga pernah atau bahkan sering merasa jatuh hati kepada seorang lawan jenis. Dari zaman SMP waktu film Kamen Rider Kuuga masih jadi trend sampai waktu kelas XII SMA ketika dunia sedang sibuk dengan berbagai macam prediksi negara mana yang akan jadi Juara Dunia Sepak Bola di Germany 2006. tapi, meskipun sering jatuh hati, aku tidak pernah sekalipun pacaran. Sebuah prestasi yang dipandang ironis oleh anak-anak gaul abad XXI.
Aku tahu, dalam perjalanan hidup ini, hidup yang berada dalam koridor Islam, tidak dikenal yang namanya pacaran. Karena pacaran itu mendekatkan kepada zina. Tapi, secara manusiawi, rasa kagum, rasa suka yang berujung dengan rasa cinta kepada lawan jenis adalah hal yang wajar. Tinggal bagaimana management kita terhadap perasaan tersebut agar kita tidak mencederai akidah yang dimiliki.
Waktu terus berlalu, dan pada hari ini setelah lama mengabaikan virus pink itu, secara otomatis dan tiba-tiba diriku kembali terjangkit virus tersebut. Ya, virus itu datang dan setiap detik semakin merusak jalan pikiranku. Bagaikan virus-virus yang menyerang komputer, dimana semakin hari virus-virus itu semakin kebal dengan antivirus, seperti sudah mendapat imunisasi dan siap mengacaukan serta merusak sistem pada komputer dalam waktu yang sangat singkat.
Perasaan ini telah memilih kepada seorang wanita yang tidak diduga-duga sebelumnya. Seorang wanita yang Insya Allah menjadi idaman para lelaki. Dia cantik, pintar, berakhlak baik, setidaknya begitulah menurutku, serta yang paling penting, dia menjaga auratnya dengan baik dari orang-orang yang bukan muhrimnya. Wanita seperti inilah yang membuat kaum adam kebanyakkan rela meng-outBond dirinya sendiri untuk mendaki puncak Everest dan menyelam di kedalaman Samudera Atlantik demi mendapatkan hati dari “wanita impian” tersebut.
Aku dihadapkan dengan situasi yang tidak bersahabat. Di satu pihak, aku harus melawan perasaan itu agar diriku tidak hanyut serta tidak terbuai dengan godaan-godaan yang sangat potensial untuk mengguncang iman. Di lain pihak, diriku mempunyai keinginan yang cukup kuat untuk bisa mendapatkan hati wanita itu. Aku tahu, tidak mungkin untuk berpacaran dan aku juga sudah memberi warning pada diriku sendiri untuk tidak berpacaran.
Seorang kakak tingkat berkata kepadaku, “wajar jika anda terus memikirkan dirinya, karena dia selalu berada di dalam pikiran anda lalu pikiran itu jatuh ke hati anda.” Secara psikologis tampaknya memang demikian. Aku terus berusaha untuk tidak mengikuti keinginanku ini karena aku tahu, jika aku terus mencoba untuk mengikuti keinginanku, maka hanya hal-hal negatif yang akan aku dapatkan.
Ada sesuatu yang sangat menggodaku ketika seorang teman memberikan solusi untuk masalah ini. aku hargai solusi itu, tapi menurutku, solusi itu adalah rencana jangka panjang, bukan rencana untuk saat ini. solusi itu adalah menikah. Dan di pandang dari sudut manapun, aku tahu kalau sekarang diriku ini belum mampu melakukan pernikahan, dan seperti sabda Rasullah SAW, “Barang siapa yang belum mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa karena puasa itu bisa menjadi benteng.”
Banyak sekali keraguan pada diri ini. Jujur, sampai detik ini aku sendiri masih bingung kenapa aku bisa jatuh hati kepada dia. Apakah perasaan ini memang karena Sang Pencipta atau hanya karena tertarik dengan kecantikan wanita itu saja ? hanya Sang Maha Kuasa yang tahu jawaban sesungguhnya.
Aku hanya bisa berdoa, meminta Allah memaafkan kesalahanku karena aku telah berpikiran seperti ini. Terkadang, dalam pikiranku yang nakal, aku meminta ada ridho dari-Nya untuk perasaanku ini sehingga Dia bisa mewujudkan impianku menjadi kenyataan. Astagfirullah…
Aku sadar, aku tidak boleh terus berlama-lama memikirkan hal ini karena masih banyak sesuatu yang harus kupikirkan, sesuatu yang lebih besar dan lebih bermanfaat untuk hidupku saat ini. Aku harus segera bangkit, bangkit untuk melakukan sesuatu yang lebih berarti. Sekaligus belajar untuk sabar dan ikhlas dalam menghadapi hal-hal seperti ini, karena Insya Allah ada waktu yang lebih tepat daripada sekarang untuk memikirkan hal ini dan merealisasikannya ke sesuatu yang lebih nyata. Ya, sekarang aku hanya bisa berpuasa, walau berpuasa itu tidak gampang, hingga waktu itu tiba.