Archive for May, 2008

Sifat Pelupa dan Lagu Kangen Band

Friday, May 30th, 2008

Tidak
terasa, blogku di friendster ini sudah mulai banyak. Tapi, akhir-akhir ini,
tulisanku sedikit banyak menyinggung kaum hawa. Kenyataan inilah yang memicu
sedikit protes dari seorang sahabat. Mungkin, satu jawaban atas krirtikan
seorang sahabatku adalah sebuah kata bijak, terinspirasi oleh Alm. Soe Hok Gie,
kalau dulu Soe Hok Gie pernah berkata “Dendam itu mulai membatu lalu turun ke
hati”, saat dia merasa sangat marah kepada seorang guru, maka hari ini aku akan
berkata “Perasaan itu mulai membatu lalu turun ke hati”. Silahkan diartikan
sendiri tapi statement ini jangan
terlalu dipermasalahkan. Aku hanya bercanda dengan statement tersebut. Ya, lupakan fenomena dalam tulisanku dan mari kembali ke
jalan yang benar.

 

Hari-hariku kembali dilewati dengan
penuh warna. Warna putih, hitam, bahkan abu-abu belakangan menghiasi
hari-hariku. Ya, apapun warna dalam hidup ini, kita harus selalu bersyukur
dengan segala yang ada dalam kehidupan kita, selagi itu merupakan hal positif. Renungkan
kalimat berikut, diambil dari Q.S Ar Rahman, ”
 Maka
nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan
?”

 

Belakangan, sifat lupaku kembali
hadir. Meskipun belum terlalu parah, paling tidak sifat lupa ini sudah membuatku
ketakutan. Fatal sekali rasanya kalau kita bersahabat dengan sifat pelupa.
Memang, sudah menjadi kodrat manusia jika mempunyai sifat pelupa. Tapi,
bagaimana caranya kita meminimalisir sifat pelupa dalam hidup kita ?

 

Baru-baru ini, kejadian yang paling
parah adalah ketika aku ingin memasak nasi dengan menggunakan rice cooker. Ternyata, di dalam rice cooker sudah ada nasi yang berusia
satu minggu. Warna nasi itu tidak lagi putih, tapi sudah berwarna hitam.
Hebatkan ?

 

Kejadian lain yang cukup membuatku
takut adalah lupa saat ujian. Dulu pernah, aku sudah merasa percaya diri untuk
ikut ujian karena aku sudah belajar dengan cukup serius dan sudah cukup
memahami materi ujian. Tapi, sewaktu ujian, pikiranku jadi blank. Apa yang sudah dipelajari, kabur begitu saja dan sepanjang
ujian, aku hanya bisa mengarang indah mengisi lembar jawaban.

 

Masih banyak kejadian lain yang
disebabkan oleh sifat lupa. Seperti lupa meletakkan dompet, handphone, dan lupa
makan (hehehe). Untung saja aku tidak lupa identitasku. Kalau sampai lupa
dengan diri sendiri, mungkin aku akan sering bertanya kepada orang lain, ”Who
am I ?” dan tidak mungkin orang lain akan menjawab ”You are Spiderman.”

 

Sebenarnya, ada satu doa untuk
menghilangkan sifat lupa. Tapi, aku sendiri sering kali lupa untuk membaca doa
tersebut. Doa itu terdapat di QS. Al Baqarah : 286. Semoga saja nanti aku tidak
lupa lagi untuk membaca doa anti lupa ini.

 

Lalu, apa hubungannya sifat lupa
dengan lagu Kangen Band ? Jawabannya adalah lagu-lagu Kang
en Band adalah
pelipur lara untukku saat diri ini sudah merasa kalah dan malu karena sifat
lupa. Lumayan untuk refreshing. Lagu
Tentang Aku, Kau dan Dia serta Selingkuh tetap menjadi top hits bagiku. Aku
tahu, Kangen Band baru-baru ini mengeluarkan album baru, tapi aku belum sempat
untuk mencari album baru Kangen Band dalam format mp3.

 

Aku merasa simpati dengan Kangen Band
saat banyak orang yang mencaci-maki, menghina, mencela, dan melecehkan mereka.
Kenapa orang-orang banyak yang meremehkan mereka dan lebih menganggap dirinya
lebih baik dari Kangen Band ? Apakah sesama anak bangsa harus saling menghina,
melecehkan dan berlaku sombong terhadap sesama ? Padahal, tidak ada manusia
yang sempurna di dunia ini, semua manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya
masing-masing.

 

Al Quran menjelaskan dalam surat
Luqman ayat ke-18, ”Dan janganlah kamu
memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di
muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong lagi membanggakan diri
”. Sudah jelas, pemilik kehidupan ini tidak
menyukai orang-orang yang sombong. Azab untuk orang-orang sombong sendiri tidak
ringan, seperi yang dijelaskan diQ.S. Al Mu’Min : 76, ”Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam sedang kamu kekal di
dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong
”.
Masih banyak lagi ayat-ayat di dalam Al Quran yang membahas tentang orang-orang
yang sombong karena kesombongan adalah sifat yang sangat berbahaya dan dapat
merusak hubungan kita dengan Allah serta hubungan antar sesama manusia seperti
yang terjadi pada Fir’aun. Na’udzubillah.

Refleksi Singkat Perjalan Hidup : Hari Kemarin dan Hari Esok yang Lebih Baik

Sunday, May 25th, 2008

20 tahun sudah aku berada di kehidupan dunia ini. Ya, 19 Mei 2008 menjadi hari yang bersejarah karena pada hari itu aku tepat berusia 20 tahun. Usia yang tidak lagi kecil. Sudah seperlima abad aku menjadi salah satu penghuni Planet Bumi.

Tidak terasa aku sudah berusia 20 tahun. Rasanya baru kemarin aku duduk di sekolah dasar untuk pertama kalinya, tapi itu sudah terjadi 14 tahun yang lalu. Dan kenyataannya, hari ini aku sudah kuliah di semester IV.

Banyak sekali cerita perjalanan hidup ini selama 20 tahun yang terlewatkan begitu saja tanpa sedikitpun catatan atau rekaman mengenai apa yang telah terjadi sekalipun itu adalah peristiwa yang bersejarah untuk hidupku. Ah, tidak ada gunanya menyesali apa yang telah terjadi.

Di Usia yang ke-20 tahun ini, aku ingin menjadi Adiet yang lebih baik dari sebelumnya. Aku ingin lebih dekat dengan Allah, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Aku ingin jadi lebih berpretasi dan lebih baik dalam menyelesaikan sesuatu dari sebelumnya. Aku ingin lebih bisa memaknai hidup ini dan lebih berarti dalam hidup. Aku ingin mengurangi atau bahkan menghilangkan kebiasaan-kebiasaan burukku, seperti keegoisanku. Aku ingin lebih bermanfaat bagi orang lain, terlebih untuk kedua orang tua dan keluargaku, aku ingin lebih mandiri dari sebelumnya. Aku ingin menjadi Adiet yang baru.

Tidak mudah memang mengubah apa yang telah ada di dalam hidup ini selama 20 tahun. Tidak semudah membalikkan telapak tangan, aku tahu itu. Tapi, tak ada salahnya berusaha untuk sesuatu yang lebih baik meskipun memakan waktu yang tidak sebentar. Aku tahu, segala sesuatu dalam diriku ini tidak akan berubah sampai aku sendiri yang merubah semua itu. Aku adalah sutradara untuk hidupku sendiri.

Satu lagi, keinginanku saat ini, karena sudah 20 tahun, aku ingin segera bertemu seseorang yang nantinya menjadi belahan hati dan jiwaku, seseorang yang menjadi teman hidupku dan selalu ada di saat aku senang dan susah. Seseorang yang akan bersamaku mengarungi samudera kehidupan. Mungkin orang itu sekarang berada di sekitarku dan aku tahu apa yang ku mau. Tapi biarlah Sang Maha Kuasa memainkan perannya dalam mendekatkannku dan dengan Sang Pujaan Hati, semoga saja seseorang yang saat ini berada dalam mimpiku benar-benar menjadi The Special One dalam hidupku (hehehehe… Sorry bgt klo agak gimana gitu..hehehe.. Just my dream, hehehe).

Satu hal yang bisa aku lakukan sekarang adalah bersyukur atas hidupku ini, bersyukur atas apa yang telah aku dapatkan, bersyukur atas semua anugerah terindah yang telah kumiliki selama ini. Lalu, berusaha untuk jadi lebih baik dari sebelumnya, menjadi manusia bercahaya yang memiliki nilai tambah positif dari orang lain.

Ya, semua itulah yang ingin aku usahakan dan aku dapatkan sekarang. Aku sangat berharap Allah dapat menjadi penolong bagiku untuk mewujudkan semua mimpi dan cita-citaku. Insya Allah, Allah akan menolongku karena Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mewujudkan mimpi-mimpi manisku menjadi kenyataan. Dan sekali lagi, agar all my dreams come true, aku berharap Allah dapat menjadi smart solutions untuk hidupku ini. Selain itu, aku sangat membutuhkan support dari keluargaku, sahabat-sahabatku, dan tentu saja dari The Special One, Sang Bidadari Impianku (hehehe, afwan, maaf).

Ya, aku harus terus menjaga semangatku untuk mewujudkan apa yang aku inginkan. Seperti yang diucapkan Arai, dalam buku Sang Pemimpi, ”Tanpa semangat dan mimpi, orang-orang seperti kita akan mati”, kalimat ini menjadi semacam motivasi bagiku untuk berusaha lebih baik lagi dalam setiap langkah kehidupan ini. Semoga semua mimpi-mimpi yang ada dalam diri ini dapat menjadi kenyataan. Amien….

I’ll Always be Nervous and Unable to Live In Peace

Friday, May 16th, 2008

Manusia selalu hidup dalam situasi yang selalu tidak bisa ditebak, meskipun manusia sering melakukan prediksi, tak jarang kenyataan yang terjadi justru berlawanan dari prediksi tersebut. Jika prediksinya gagal, banyak orang yang jadi patah arang. Tampaknya kita, sebagai manusia memang harus menjadi ahli Decision Making Under Uncertainty.

Hidup penuh dengan tantangan serta berbagai macam persoalan. Dan semakin hari, tantangan serta persoalan yang datang kepada hidup terasa bertambah besar. Berat memang, tapi semua ini adalah sebuah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari hidup seseorang.

Aku merasakan semua tantangan dan persoalan itu. Aku tidak berani mengatakan kalau selama ini aku berhasil melalui tantangan dan persoalan tersebut dengan baik. Aku juga malu jika harus mengatakan selama ini aku tak berhasil melalui semua itu dengan baik. Sebuah dilema ketika harus jujur dengan apa yang ada dalam hidup, bagai memakan buah simalakama.

Belakangan ini, persoalan yang dialamatkan untuk diriku terasa sangat rajin menghampiri. Aku tidak sadar, kalau persoalan-persoalan yang datang telah membuatku lebih jarang tersenyum dan membuat diriku lebih cenderung bersikap selfish. Persoalan tersebut sangat kompleks. Akibatnya, aku lebih sering terlihat murung. Seorang teman mencari tahu kenapa aku sering terlihat murung dan tak bersemangat. Ini ku ketahui setelah seorang kakak tingkat bertanya kepadaku, lalu aku hanya menjawab seadanya.

Melamun dan merenung adalah kebiasaanku dari dulu. Kebiasaan ini kulakukan kalau aku sedang mengalami suatu hal yang sangat mengganggu. Aku melamun dan merenung untuk mencari solusi dari persoalan yang sedang aku hadapi walaupun kebiasaan ini sering menjadi bahan tertawaan teman-temanku. Biarlah mereka tertawa, itu hak mereka. Tapi sekarang, lamunan dan renunganku saat ini tidak berpengaruh, kurang bisa diandalkan untuk memberikan solusi-solusi atas permasalahanku, malah berpotensi untuk membuat suatu persoalan baru.

Tak tahu kenapa kemampuanku dalam melamun dan merenung mengalami penurunan. Apakah ini ada hubungannya dengan faktor usia yang semakin bertambah. Ah, rasanya tidak, justru dengan bertambahnya usia, seseorang menjadi semakin dewasa dan bijak dalam menghadapi persoalan. Atau, ini ada kaitannya dengan kompleksnya persoalan yang aku hadapi ? Tapi, kenapa ada orang yang begitu mudah dalam menghadapi persoalan hidupnya ?

Ingin rasanya aku menyerah pada apa yang terjadi dengan hidupku saat ini. Di dalam diri ini juga pernah terbesit keinginan untuk menerima hidup ini apa adanya. Ya, dalam pikirku, bendera putih adalah obat yang mujarab untuk semua kepenatan ini.
Tapi, dalam lamunanku, aku teringat sebuah kata dalam buku Sang Pemimpi dari Andrea Hirata, “Tanpa semangat dan mimpi, orang-orang seperti kita akan mati.” Ya, itulah kata-kata yang diucapkan oleh tokoh Ikal dan Arai saat mereka sedang kehilangan semangat dan motivasi.

Teringat akan kata seseorang, bahwa ada seorang yang punya masalah lebih rumit dan lebih kompleks daripada masalahku tapi dia tidak pernah mengeluh. Tampaknya memang, aku tidak boleh mengeluh dan katakanlah tidak boleh terus menyalahkan keadaan.

Ya, apapun itu, sekarang aku sedang berusaha untuk bisa belajar mensyukuri hidup ini. Aku harus sadar, dalam hidup yang menurutku melelahkan ini, aku harus bersyukur bahwa aku masih beruntung daripada orang lain.

Semoga Allah selalu memberikan rahmat, ridho, dan kemudahan dalam mengarungi Samudera Kehidupan ini.

Suara Hati Seorang Ikhwan

Wednesday, May 14th, 2008

Suara Hati Seorang Ikhwan

June 2, 2007

Posted by epsdin in My
Heart.trackback

Wanita Suci,

Wanita Suci,
Mungkin aku memang tak romantis tapi siapa peduli ?
Karena toh kau tak mengenalku dan memang tak perlu mengenalku.
Bagiku kau bunga, tak mampu aku samakanmu dengan bunga terindah sekalipun,
Bagiku, manusia adalah makhluk yang terindah, tersempurna dan tertinggi.
Bagiku dirimu salah satu dari semua itu, karenanya kau tak membutuhkan persamaan.

Wanita Suci,
Jangan pernah biarkan aku menatapmu penuh, karena akan membuat ku mengingatmu.
Berarti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu.
Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku.
Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa, sesemangat mentari.
Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh lumpur.
Karena sesungguhnya dirimu kau terlalu suci.

Wanita Suci,
Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung.
Ada ingin tapi tak ada henti.
Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelabat selalu, meski ujung penutupmu pun tak berani kusentuh.
Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku karena sucimu kau pertaruhkan.
Mungkin kau tak peduli
Tapi kau hanya menjadi wanita biasa di hadapanku bila kau kalah.
Dan tak lebih dari wanita biasa.

Wanita Suci,
Jangan pernah kau tatapku penuh
Bahkan tak perlu kau lirikkan matamu untuk melihatku.
Bukan karena aku terlalu indah, tapi karena aku seorang yang masih kotor.
Aku biasa memakai topeng keindahan pada wajah burukku, mengenakan pakaian sutra emas.
Meniru laku para rahib, meski hatiku lebih kotor dari lumpur.
Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin kau termanipulasi.
Karena kau toh hanya manusia, hanya wanita.