Tinggal Kenangan
Kurang lebih dua setengah tahun sudah seseorang
itu berada di luar jangkauanku. Memang, dua setengah tahun adalah waktu yang
cukup lama dan seharusnya aku sudah bisa benar-benar melupakannya. Tapi sampai
hari ini aku masih tidak bisa melupakannya. Segala sesuatu yang pernah aku
lewati bersama dia kini hanya tinggal
kenangan. Jika melihat apa yang aku rasakan saat ini, tentu saja aku masih
mengharapkan dirinya.
Awal dari semua ini ketika aku berada di kelas
XI SMA. Saat itu, tim basket putri sekolahku kekurangan pemain. Berdasarkan
informasi salah satu adik kelas, aku bertemu dengan dia dan mengajak dia untuk
bergabung ke dalam tim basket sekolahku. Waktu pertama kali bertemu dengan dia,
aku bersikap biasa-biasa saja.
Buah semangka di dasar laut, tak disangka
hatiku terpaut. Buah nangka kulitnya berduri, tak disangka hatiku tercuri. Ya,
akhirnya aku tertarik padanya. Semua berjalan sesuai rencana, berawal dari sms
memakai identitas palsu, sekedar main-main sekaligus basa-basi dalam pede kate,
aku pun menjadi dekat dengan dia. Tiada hari tanpa smsan dengan dia. Tiap hari
aku iseng misscall dia, misscall yang juga berbalas misscall darinya. Selama kurang lebih 6
bulan, hari-hariku terasa sangat indah.
Sampai akhirnya apa yang tidak kuinginkan
terjadi. Di tengah ketidakjelasan status hubungan kami, dia berpaling dan
menemukan seseorang yang dia anggap tepat untuk dirinya. Pupus sudah apa yang aku harapkan dan kenyataan itu sempat membuat
hatiku luluh lantak.
Sampai hari ini aku hanya bisa mengingat dan
mengenang semua kenangan terindah
yang kurasakan bersamanya. Begitu indah
apa yang pernah kulalui bersamanya dulu. Masih segar di dalam ingatanku ketika
pertama kali aku mengantar dia pulang ke rumah karena aku “dijebak” oleh
teman-temanku dan saat-saat aku ada kesempatan untuk mengantar dia pulang ke
rumah. Lalu, mengantar dia pulang ke rumah saat dia selesai les sore di salah
satu lembaga bimbingan belajar, ngobrol dan bercanda dengan dia, berbuka puasa
bersama, makan bareng, dan juga saat dia membalutkan plester pelindung luka di
jempol tangan kananku yang mengeluarkan darah karena terkena benda tajam.
Terkadang aku berpikir, segala sesuatu yang pernah aku lewati bersama dirinya adalah sesuatu yang indah untuk dikenang.
Sekarang, aku hanya bisa mengenang apa saja
yang telah aku lalui bersamanya. Aku hanya bisa menyesali kesalahan-kesalahan
yang telah kulalukan sehingga dia berada di luar jangkauanku. Beberapa
kesalahan yang aku sesali itu adalah sikap overprotected
terhadap dirinya (aku mendapat sedikit informasi kalau dia memandangku memiliki
sikap overprotected yang tidak dia sukai dan inilah yang menjadi penyebab utama
dia menjauh dariku). Satu lagi yang aku sesalkan adalah caraku dalam
memperkenalkan konsep ta’aruf dengan kacau balau dan amburadul kepada dia sehingga
mungkin muncul kebingungan di dalam dirinya. Maklum saja, waktu itu aku masih ABG, sehingga emosiku masih sangat
meledak-ledak menyampaikan segala hal yang baru kuketahui.
Aku telah memutuskan untuk jalan terus dalam mengejar mimpiku yang satu ini. Aku berharap
masih ada kesempatan kedua darinya
untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu. Aku tahu, mungkin sekarang dia sudah
bosan dan jenuh dengan segala yang
kulakukan selama dua setengah tahun ini, tapi tidak ada salahnya untuk berusaha,
bukankah tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini?
Sikapku yang terus menanti sebuah jawaban sampai dia memberiku kesempatan sekali lagi dinilai oleh beberapa orang
sebagai tindakan yang percuma dan sia-sia. Ya, karena sikapku ini mungkin saja
mereka menganggapku sebagai manusia
bodoh. Aku tidak bermaksud sombong serta mengabaikan semua saran dari orang
lain (mungkin termasuk kalian, sahabatku yang membaca tulisan ini), aku
terpaksa mengambil sikap “Emang Gue
Pikirin” dari pandangan orang terhadap diriku saat ini karena aku yakin akan
datangnya sebuah keajaiban, paling tidak untuk saat ini. Bisa saja keajaiban
itu adalah hikmah dari apa yang terjadi selama ini sehingga aku bisa menjadi
lebih baik dari sebelumnya dan aku mendapatkan yang lebih baik dari dirinya
atau mungkin keajaiban itu adalah sikap dia yang kembali berpihak kepadaku. Dan
aku tidak berpikir bahwa cinta ini
membunuhku, terlalu naif rasanya jika aku mati karena dia. Aku masih bisa
berpikir normal dan akal sehatku masih jalan walaupun aku berada di tengah
keadaan yang tidak berpihak padaku.
Aku memang sering berkata kepada teman-temanku,
bahwa aku tidak lagi mengharapkan dia dan sejujurnya sudah beberapa kali aku
mencoba untuk mencari penggantinya, tapi aku tetap tidak bisa membohongi diriku
sendiri kalau aku masih mengharapkannya dan aku masih beranggapan dia adalah
yang terbaik (setidaknya sampai hari ini).
Mungkin karena sifat keras kepala yang sudah
melekat pada diriku sehingga sampai detik ini aku masih saja berharap dia akan
merubah pikirannya dan aku bisa dekat dengan dia seperti dulu. Memang bagai
pungguk merindukan rembulan jika melihat keadaanku dengan dia saat ini. Tapi,
aku masih berharap adanya keajaiban karena aku masih berpikir tidak ada yang
tidak mungkin di dunia ini termasuk sikap dia yang kembali berubah seperti dulu
sehingga aku bisa dekat lagi dengan dia.
Sampai detik ini, aku masih berusaha untuk menjaga hati. Dalam doaku, aku berharap
Allah mengabulkan keinginanku. Aku berharap My Almighty mengizinkanku untuk kembali
dekat dengan dia. Tapi, jika keinginanku ini dikabulkan, aku juga berharap hal
ini tidak menyebabkan kerenggangan kedekatanku dengan Sang Pencipta dan malah
lebih mendekatkan diriku dengan-Nya.
Hanya sisa-sisa keyakinan akan datangnya sebuah
keajaiban impianku akan menjadi nyata inilah yang membuatku sedikit bersemangat
untuk bertahan dalam mengejar
impianku ini. Semoga Yang Maha Kuasa segera menjawab segala kegelisahan ini
sehingga semuanya segera menjadi jelas dia
milikku atau bukan. Dan dibalik semua yang terjadi ini, aku yakin My
AlMighty punya rencana dan sesuatu yang sangat baik untukku.
June 30th, 2008 at 8:52 am
hm. it’ll never change, wont it?
gimana ya bang, bingung juga ane mau kasi komen apa.
ya sabar saja.
dan btw, janganlah berharap yang spesifik (berharap didekatkan lagi padanya) karena belum tentu itu yang terbaik untukmu.
Allah tau yang terbaik, jadi berdoalah untuk mendapatkan yang terbaik itu, apapun itu, dan berdoalah agar jalanmu ke sana dipermudah.
santai santai, tapi tetep SEMANGAT!
July 4th, 2008 at 1:51 am
smangat teman,,
berharap boleh tpi jg terlalu berharap (lho??
cak itulah,,ngertikan??hoho..)
yang diberikan allah yang terbaik,,