Archive for July, 2008

Mencoba Memahami

Tuesday, July 29th, 2008

1_192832478l

Setiap
langkah dalam kehidupan yang kita jalani tentu saja merupakan pilihan dari
segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitar kita. Kita tentu berpikir, dengan
mengukur semua kemampuan di diri kita, pilihan yang kita ambil adalah pilihan
terbaik untuk diri kita.

Dalam
beberapa kesempatan, aku juga harus menjalankan salah satu “prosedur” hidup
ini. Aku tentu memiliki pilihan tersendiri apa saja yang menurutku bagus
diriku, termasuk memilih langkah apa saja yang akan aku ambil dalam merancang
masa depanku.

Aku sangat tertarik untuk sekolah di sebuah
tempat dimana aku yakin di tempat itu aku mampu mewujudkan masa depan yang
baik. Sudah cukup lama aku berpikir seperti ini. Namun pada kenyataannya, aku
harus menempa ilmu di tempat lain yang kondisinya tentu sangat berbeda dengan
sekolah yang selama ini berada dalam mimpiku. Aku sempat merasa kecil hati
ketika menerima kenyataan ini. Sebagian orang-orang di sekitarku menguatkan
diriku untuk menerima kenyataan ini apa adanya dan alhamdulillah aku cukup
terhibur walau aku tau mungkin sebagian yang lain kecewa karena sangat
mengharapkan aku berada di tempat itu.

Setelah
hampir dua tahun menjalani kenyataan yang aku dapatkan, aku kembali mencoba
peruntungan agar dapat berada di tempat itu. Meskipun selama ini, aku
mendapatkan apa yang tidak aku duga-duga berupa beberapa kepercayaan untuk
menjalankan tugas dan amanah, aku tetap bertekad untuk bisa berada di  sana. Walau terkadang aku lalui dengan setengah hati, aku masihjalani agar bisa merancang masa depanku di temapt itu.

Terkadang,
ada sebuah penyesalan yang menghampiri diri ini, penyesalan karena aku tidak
mempersiapkan diri dengan baik dari sejak dulu untuk menghadapi kesempatan
pertama sebelum diriku berada di  sana.

Aku sadar, menyesali sesuatu yang telah terjadi itu tidak ada gunanya dan aku
masih berusaha untuk menerima semu ini dengan lapang dada. Terkadang, muncul
sebuah perasaan tidak enak jika melihat teman-teman yang sukses berada di sana.

Dan
saat ini aku masih menunggu, apakah tahun ini aku bisa berada di tempat yang
aku inginkan dari dulu atau tetap berada disini. Jika aku melihat apa yang
telah aku lakukan selama ini, hanya menambah besar rasa pesimisku dan usaha
yang telah ku lakukan hanya sia-sia belaka.

Dalam surat Al
Baqarah ayat 216, Allah SWT berfirman, “boleh
jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik untukmu, dan boleh jadi (pula)
kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk untukmu. Allah mengetahui,
sedangkan kamu tidak mengetahui
.” Mungkin yang aku jalani saat ini memang
yang terbaik bagiku atau yang terbaik bagiku itu akan datang nanti. Aku terus
mencoba belajar dan memahami apa yang aku dapatkan dan aku jalani saat ini
adalah yang terbaik bagiku dari Allah SWT. Aku masih terus mencoba untuk
berlapang dada dan ikhlas menerima semua ini. Ya Allah, ajarilah aku memahami
semua ini.

Aneh…

Wednesday, July 23rd, 2008

Tiba-tiba diriku menjadi aneh. Setiap hari, ada saja sesuatu yang menambah keanehan pada diriku.

Ok, ga usah bicara tentang melamun. mungkin itu udah jadi ciri khas diriku. Soal sifat pelupa?Ya, mungkin udah jadi salah satu ciri khas diriku juga. ternyata, hidupku tidak cukup oleh dua keanehan tersebut. Masih ada keanehan lain yang menghampiri.

Kejadian pertama yang menambah keanehan diri ini adalah ketika aku ingin menyebrangi sebuah jalan menuju toko buku Gramedia dan jalan tersebut merupakan jalan satu arah (Ferbodden). Entah sadar atau tidak jalan tersebut adalah jalan satu arah, aku menyebrangi jalan dengan hati-hati dan selalu melihat ke KANAN dan KIRI jalan. Mungkin karena udah jadi kebiasaan atau emang error. Tapi yang jelas, aksiku ini dianggap aneh oleh sebagian orang dan tentu saja menghambat langkahku untuk cepat sampai tujuan.

Next, keanehan kedua adalah saat suatu hari ingin membayar billing di warnet. Tagihan di billing menunjukkan nominal Rp. 2800. Dengan sigap aku merogoh kantung celana sebelah kanan dan dengan penuh percaya ciri serta sepenuh jiwa dan raga aku menyerahkan uang Rp. 1000 dan berharap mendapat kembalian Rp. 1200. Ternyata, telah terjadi human error karena uang Rp. 1000 tersebut aku anggap uang Rp. 5000.

Ketiga, waktu ujian midsemester salah satu mata kuliah. Pak Dosen udah bilang kalau soal nomor delapan, jawaban yang diminta adalah fungsi dan komponen telekomunikasi sedangkan di kertas jawabanku tertulis fungsi komponen telekomunikasi. Memang, jika dibaca sepintas, kedua hal tersebut memang sama. Tapi, jika diteliti tentu memiliki makna yang berbeda.

Huh, ga tau juga kenapa seperti ini. Coba aja keanehan yang datang itu seperti kemampuan unik Spiderman, Superman atau Ironman. Kalau udah gitu, Insya Allah ga akan ada lagi kasus mutilasi di Indonesia.hehehehe
Mungkin ini cuma kebetulan sesaat. Dan kalau ada keanehan yang menghampiri ke diri ini di waktu yang akan datang, semoga keanehan itu adalah keanehan yang bermanfaat bagi kehidupanku, seperti ketika aku mendapatkan peringkat 1 di sebuah kontes publik speaking beberapa waktu lalu atau keanehan itu bermanfaat bagi semua orang, bangsa dan negara.hehehe

Revolusi Hidup

Wednesday, July 2nd, 2008

Tulisan ini bukan
tulisan ilmiah. Tulisan ini bukan sebuah tulisan yang mengajak pembacanya untuk
memperbaiki apa yang terjadi di

Indonesia

saat ini. Ini adalah sebuah tulisan tentang suara hati seorang anak muda yang
ingin merubah hidupnya.

 

Setiap manusia tentu
menginginkan sebuah kehidupan yang baik dan kalau bisa, hidupnya tidak bertemu
dengan hal-hal negatif. Selalu ingin merasa senang dan bahagia mungkin sudah
menjadi sifat dasar manusia. Jika hidupnya berada dalam sebuah keadaan yang
dinilai tidak baik, secara otomatis manusia akan berpikir untuk menuju
kehidupan yang lebih baik.

 

Revolusi hidup
tampaknya menjadi sebuah pilihan dalam meyikapi keadaan yang dinilai kurang
bersahabat. Revolusi atau perubahan hidup bisa saja merubah cara pandang kita
terhadap kehidupan, tentu saja hal ini menuntut kedewasaan seseorang. Dan ini
berarti, revolusi hidup tersebut dialami oleh individu.

 

Tapi pada
kenyataannya, revolusi hidup tidak hanya dilakukan oleh individu. Revolusi
hidup juga merambah ke sistem atau tata cara serta kebiasaan hidup masyarakat. Contoh
paling sederhana adalah saat ini  jangan
harap anak-anak kecil akan menyanyikan lagu Pelangi-pelangi, Potong Bebek
Angsa, Balonku, atau lagu-lagu yang identik dengan kehidupan anak kecil. Jika diminta
menyanyi, mereka akan dengan senang hati akan menyanyikan lagu Duo Maia, Yovie
and The Nuno, Peter Pan, The Chungcuters, atau sederet lagu remaja dan dewasa
lainnya. Bukan hanya soal nyanyian, anak kecil sekarang akan sangat senang jika
menonton sinetron yang bertemakan cinta daripada menonton film kartun seperti
Doraemon dan Digimon, malah penikmat film kartun saat ini kebanyakan adalah
anak-anak SMA. Anak kecil sekarang juga sangat pintar jika ditanya apa yang
sedang terjadi di dunia selebritis karena infotainment sudah menjadi konsumsi
wajib bagi anak-anak. Jelas, kenyataan ini sangat berbeda sekali dengan
kehidupan anak-anak sepuluh tahun yang lalu.

 

Oke, kita tinggalkan
dulu fenomena revolusi dalam kehidupan anak-anak. Aku juga ingin melakukan revolusi
dalam hidupku. Aku ingin segera melakukan sebuah perubahan, jika perlu
perubahan yang radikal untuk hidupku. Aku menginginkan sesuatu yang lebih baik
daripada apa yang kurasakan sekarang. Revolusi yang ingin kulakukan bukan
tentang materi, tapi bagaimana cara pandangku terhadap kehidupan dan semua apa
yang terjadi dalam hidup ini.

 

Keinginan itu
tampaknya kurang bisa berjalan dengan mulus selagi di hati ini masih menyimpan
sebuah kegelisahan. Kegelisahan yang seharusnya sudah tidak perlu menghampiri
diri ini. Kegelisahan ini membuatku pesimis dan aku berpikir, selagi
kegelisahan ini masih bersama diriku, mustahil aku bisa merevolusi hidupku. Aku
merasa kehilangan motivasi dalam setiap pekerjaan yang kulakukan karena
kegelisahan ini, meskipun telah berkali-kali aku membaca slide-slide motivasi
untuk megembalikan motivasi diri.

 

Ah, tampaknya aku
tidak perlu mempermasalahkan kegelisahan ini. Aku harus memikirkan bagaimana
caranya mengembalikan motivasi diriku. Aku tahu, sulit untuk diriku melepaskan
kegelisahan dalam hatiku ini tapi rasanya, tidak ada alasan untuk menyerah
kepada kegelisahan tersebut. Aku harus menghilangkan kegelisahan di dalam hati
ini, atau paling tidak meminimalisirnya agar aku bisa segera merevolusi
hidupku.

 

Aku ingin segera
melakukan revolusi hidup. Terkadang, aku merasa hidupku ironis sekali karena
aku bisa menangisi kegelisahan ini tetapi aku tidak bisa menangisi dosa-dosa
dan kesalahan yang telah aku perbuat. Aku bisa menjadi pusing karena
kegelisahan di dalam hati ini, tapi aku tidak bisa pusing karena segudang
amanah yang telah dipercayakan kepadaku. Itu sebabnya aku ingin segera
merevolusi hidupku karena aku tidak mau menjadi orang yang hanya mementingkan
kehidupan dunia tanpa mementingkan persiapan menuju kehidupan akhirat nanti.

 

Aku sadar, melalui
revolusi hidup ini, aku mungkin tidak
dapat mengubah dunia yang aku di sekitarku, tapi aku dapat mengubah cara aku
melihat dunia di dalamku
. Seorang Vince Lombardi pernah berkata, “Masalahnya bukanlah apakah anda dijatuhkan,
tetapi apakah anda bangkit kembali
”. Ya, aku harus bangkit dari semua
kegelisahan hatiku apalagi di tahun 2008 ini, Presiden SBY mencanagkan
Indonesia Bangkit dalam peringatan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional
(lho..kok gini).

 

Hidup adalah perbuatan, karena itulah aku ingin segera merevolusi hidupku, melakukan
perubahan untuk sesuatu yang lebih baik. Aku harus segera mengalahkan
kegelisahan di dalam hati ini agar tidak ada lagi yang mengatakan aku seperti
seorang psikopat. Motivasiku harus segera kembali agar revolusi ini bisa cepat
terlaksana. Dan ya Allah, ajarilah aku memahami semua ini.