Archive for September, 2008

Warisan Tempo Doeloe

Sunday, September 28th, 2008

Sudah 63 tahun negeri ini lepas dari penjajahan bangsa asing. Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang adalah bangsa-bangsa asing yang pernah mencoba ‘mengadu nasib’ di bumi ibu pertiwi ini. Dari keempat negara tersebut, mungkin hanya Belanda yang sukses menjajah Indonesia.

Setelah merdeka, Indonesia dihadapkan oleh berbagai situasi. Berbagai gejolak di dalam negeri pun terjadi dan mencapai puncaknya pada tahun 1998. Ya, pada tahun itu, rezim Orde Baru yang secara kasat mata banyak memberi perubahan yang berarti bagi Indonesia, terutama di sektor pembangunan, tapi dibalik semua itu banyak sekali hal-hal yang kurang baik, berhasil ditumbangkan melalui sebuah aksi mahasiswa hampir dari seluruh pelosok negeri yang kita kenal dengan Reformasi.

10 tahun peristiwa heroik tersebut (reformasi) berlalu. Reformasi yang berasal dari kata re- dan formasi bisa diartikan sebagai menata atau menyusun kembali setiap sektor kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, terutama di sektor eksekutif (pemerintahan). Ini berarti, ada sebuah harapan yang sangat besar dari reformasi yang dilakukan, harapan akan terlaksananya kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.

Tapi nyatanya, setelah 63 tahun Indonesia merdeka dan sudah 10 tahun reformasi berlalu, tidak ada perubahan yang berarti di dalam negeri ini. Tidak ada sesuatu yang bisa dirasakan secara nyata berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya terutama di sektor pemerintahan dan perekonomian. Negeri ini masih bersahabat dengan budaya-budaya kolonial yang seperti telah mengakar di negeri ini.

Warisan tempo doeloe. Ya, seperti itulah aku mendeskripsikan budaya kolonial yang masih melekat erat di negeri ini. Bagaimana tidak, bisa kita saksikan setiap hari, bagaimana budaya kolonial tersebut masih bersahabat dengan negeri ini. Mulai dari masalah korupsi, money politic, janji palsu para elit politik, hingga fitnah dan adu domba sesama elit politik. Apakah ini yang kita harapkan dari beratnya perjuangan meraih kemerdekaan? Apakah ini balasan yang setimpal dari darah anak-anak terbaik negeri ini yang rela mengorbankan jiwa dan raga untuk negeri tercinta? Saya yakin tidak!

Terkadang, pedih hati ini melihat masih ada orang yang bergaul dan bersahabat dengan budaya kolonial tersebut. Orang yang kita anggap bisa mengenyangkan perut rakyat malah semakin membuat rakyat mendekati kematian dengan kelaparannya. Orang yang berkeinginan untuk memberikan kesejahteraan kepada masyarakatnya dalam kampanye politik yang dilakukan, ternyata ‘membeli’ hati nurani masyarakat dengan beberapa lembar uang dan menyerang lawan politiknya melalui berbagai macam fitnah demi satu kursi kekuasaan. Seperti lirik sebuah lagu, ‘katanya reformasi, nyata dagang sapi.’ Itulah sekilas realita kehidupan di negara ini.

Tidakkah mereka sadar, menjadi pemimpin sangat berat tanggung jawabnya, baik di dunia dan di akhirat? Bukankah saat di hari akhir nanti setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya. Apakah mereka tidak mengetahui, jika sahabat para Nabi SAW menangis terisak, tersedu-sedu saat diangkat menjadi pemimpin mengingat beratnya tanggung jawab seorang pemimpin dan pedihnya azab bagi pemimpin yang tidak amanah?

Mungkin sekarang kita tidak bisa melakukan reparasi terhadap para pemimpin yang saat ini sedang berkuasa dan membuat rakyat mati perlahan-lahan. Tapi kita bisa memperbaiki diri kita sendiri. Karena kita adalah para pemimpin masa depan yang harus berbeda dengan pemimpin (atau penguasa) saat ini. Kita harus meninggalkan budaya kolonial dan segala bentuk feodalisme yang sekarang masih berteman baik dengan para penguasa di hampir seluruh pelosok negeri ini.

Kita harus segera memilih untuk menjadi manusia ideal yang jauh dari budaya kolonial dan feodalisme atau tetap menjadi manusia kerdil yang bersahabat baik dengan budaya kolonial dan feodal. Kita harus berubah, langkah kita harus semakin tegak! Karena perubahan adalah sebuah kepastian agar negeri ini bisa tersenyum dan meraih kemenangan yang hakiki. Walahu’alam bishawab.