Sunyi, Sepi, Sendiri (lagi…)

June 25th, 2008 by adiet-cynconize

wah..aku dah 2 minggu ada di Bengkulu..lumayan buat refreshing setelah ujian semester dan sebelum ikut semester pendek..
tapi, yang aku temukan di Bengkulu agak meleset dari harapanku..temen2 yang berjuang di pulau jawa kebanyakan ga pulang atau belum pulang sampai aku angkatan kaki dari bumi rafflesia..

tiap main futsal..jadi kiper yang ga bagus (coz dah hampir 1 tahun ga main futsal, apa lagi jadi kiper).
tiap ke BIM, ga ada 21..(ya iyalah..mallnya kayak pasar Tradisional modern gitu, pasar minggu kaleee).
tiap ke pantai panjang cuma ngeliat dua anak manusia memadu kasih dengan mesra karena terpengaruh film-film Amerika.
tiap lewat SD 11 di kampung, yang ada cuma inget kenangan kalah dengan menyakitkan waktu lomba mata pelajaran IPS sekota Bengkulu kelas 6 SD dulu. ga hanya itu, yang terparah malah jadi inget kenangan dan jadi kangen (dikit kok, ga banyak) ama *AY* (sorry bro, nama sengaja dirahasiakan untuk meminimalisir ketegangan dunia barat dan Iran, lho..lho..)

alhasil, liburan kali ini (plus ditambah bolos) menjadi freak banget buat aku..aku jadi canggung, ling-lung..bingung..halah..tapi aku juga mesti bbersyukur karena aku masih bisa bertemu dan berkumpul dengan keluargaku dan beberapa orang sahabat-sahabatku yang baik, pintar, perhatian, rajin menabung, dan memiliki masa depan yang cemerlang..walalupun ga semua dari mereka yang aku temui karena dah beberapa liburan ini, aku lebih sering di rumah..merasa lebih enak aja gitu..*sorry ya sahabat2ku bukannya aku sombong, tapi lagi dapet M..Males maksudnya..hehe*

puncak dari semua ini adalah… Mama dan ke-2 adekku berangkat ke Kupang buat mengunjungi Papa, sekalian liburan juga..alhasil, aku jadi merasa sepi..aku tidak ikut karena aku Insya Allah ikut semester pendek..dunia bakal terasa sunyi, sepi, sendiri lagi karena aku akan segera pulang ke Palembang…huh, semoga saja sendiri itu indah-lagunya Seurius- itu emang indah.

aku merasa jadi kurang bersemangat lagi..kok bisa ya??
duh..kenapa ini..satu hal yang bikin aku cukup berlapang dada untuk ikut semester pendek adalah karena aku udah janji ama sandra dewi untuk cepat-cepat selesaikan kuliah biar cepat nikahkan dia..lha..lah..kok begini om???

klo ada yang sms buat nyaranin, “biar kamu semngat, maen aja ke rumah cewek kamu atau sms aja dia.”
dengan tegas akan aku jawab, “maaf bung, aku ga punya pacar kaleee..saran kamu itu ga ngena banget deh..oke audiens..anything else???” (kok ga nyambung ya??)

ya..aku berusaha menikmati apa yang ada di hidup ini. karena hidup ini memang sebuah siklus seperti siklus hujan atau Product Life Cycle..senang-sedih-rame-sepi-kenyang-laper-kebelet-ga kebelet..dan sekarang aku sedang berada dalam siklus itu.

I don’t know why…

June 21st, 2008 by adiet-cynconize

Ga tau kenapa akhir2 ini aku jadi aneh lagi..lebih sering melamun yang ga penting..
tiap pulang ke kota asal, berharap dia juga pulang dan ketemu dia. Tiap buka fs berharap ada comment dari dia, tiap melintasi “jalan kenangan” jadi ingat ma dia dan segala sesuatu tentang dia..huh..hidup emang sulit, padahal, aku sudah bertekad untuk memulai “hidup baru”…jadi adiet yang baru dan ga seperti dulu lagi, tapi kayaknya sulit banget buat menghilangkan semua yang udah jadi kebiasaan dan kenangan-kenangan masa lalu…capek deh..

angin laut pergi, lalu datanglah angin darat..gugur satu, lalu tumbuh satu…
ada aja yang buat diriku seperti kembali ke kebiasaan masa lalu..
tiap buka fs berharap ada komen dari dia, tiap pegang hape, berharap ada sms dari dia, tiap melamun yang terlintas wqajah dia, padahal yang dilamunin adalah kenaikan harga BBM….

aku ga tau kenapa semua jadi seperti ini..aku ga tau kenapa kebiasaan2 masa lalu itu kembali..padahal aku udah bertekad untuk jadi adiet yang baru..tapi tenyata, membuat sebuah perubahan emang sangat sulit. pantasan, waktu reformasi 1998 situasi jadi tak menentu..

ga tau kenapa tiap lihat ada komen dari “oposisi” atau “lawan politik” di FS dia, hatiku jadi ga enak..tiap lihat foto dia, hatiku segera berkata ingin menjadikan dia orang yang sah..padahal, diri ini dari ujung rambut sampai ujung kaki belum siap!!!!

ga tau kenapa sulit banget buat tinggalkan yang satu ini..padahal dulu, tepat pada 1 JANUARI 2006 aku sudah mendapatkan pelajaran sangat berharga yang ga bisa aku dapatkan di International School sekalipun..aku ga mau dua kali masuk ke lubang yang sama..hanya keledai (buta pula) yang masuk dan terperosok dua kali ke dalam lubang yang sama….

I don’t know why my days be like this… Tapai.. Tapai… Tapai…

Badai Pikiran

June 19th, 2008 by adiet-cynconize

Badai Pikiran kembali menerjang…
menghempaskan segala ketenangan di dalam jiwa
mengguncang kedamaian diri
menambah gelisah hati

Masalah silih berganti mengunjungi diri..
tanpa daya, aku hanya bisa berdiri
menatap sepi dan ketidakberdayaan ini

apakah ini hanya cobaan?
atau sudah menjadi kebiasaan?

Tolong aku melewati semua ini,
Rabb, aku tidak mampu berbuat apapun tanpa-Mu

Aku tau, terkadang, aku sendiri yang mengundang masalah itu
tapi tolong, mulai saat ini hilangkanlah semua itu..
jauhkanlah aku dari badai-badai pikiran ini

Mungkin memang aku harus bersabar
Dan tentu saja mengoreksi diri
Sampai badai itu pergi..

Mungkin aku harus bersabar karena ku tahu
badai pasti berlalu

Sifat Pelupa dan Lagu Kangen Band

May 30th, 2008 by adiet-cynconize

Tidak
terasa, blogku di friendster ini sudah mulai banyak. Tapi, akhir-akhir ini,
tulisanku sedikit banyak menyinggung kaum hawa. Kenyataan inilah yang memicu
sedikit protes dari seorang sahabat. Mungkin, satu jawaban atas krirtikan
seorang sahabatku adalah sebuah kata bijak, terinspirasi oleh Alm. Soe Hok Gie,
kalau dulu Soe Hok Gie pernah berkata “Dendam itu mulai membatu lalu turun ke
hati”, saat dia merasa sangat marah kepada seorang guru, maka hari ini aku akan
berkata “Perasaan itu mulai membatu lalu turun ke hati”. Silahkan diartikan
sendiri tapi statement ini jangan
terlalu dipermasalahkan. Aku hanya bercanda dengan statement tersebut. Ya, lupakan fenomena dalam tulisanku dan mari kembali ke
jalan yang benar.

 

Hari-hariku kembali dilewati dengan
penuh warna. Warna putih, hitam, bahkan abu-abu belakangan menghiasi
hari-hariku. Ya, apapun warna dalam hidup ini, kita harus selalu bersyukur
dengan segala yang ada dalam kehidupan kita, selagi itu merupakan hal positif. Renungkan
kalimat berikut, diambil dari Q.S Ar Rahman, ”
 Maka
nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan
?”

 

Belakangan, sifat lupaku kembali
hadir. Meskipun belum terlalu parah, paling tidak sifat lupa ini sudah membuatku
ketakutan. Fatal sekali rasanya kalau kita bersahabat dengan sifat pelupa.
Memang, sudah menjadi kodrat manusia jika mempunyai sifat pelupa. Tapi,
bagaimana caranya kita meminimalisir sifat pelupa dalam hidup kita ?

 

Baru-baru ini, kejadian yang paling
parah adalah ketika aku ingin memasak nasi dengan menggunakan rice cooker. Ternyata, di dalam rice cooker sudah ada nasi yang berusia
satu minggu. Warna nasi itu tidak lagi putih, tapi sudah berwarna hitam.
Hebatkan ?

 

Kejadian lain yang cukup membuatku
takut adalah lupa saat ujian. Dulu pernah, aku sudah merasa percaya diri untuk
ikut ujian karena aku sudah belajar dengan cukup serius dan sudah cukup
memahami materi ujian. Tapi, sewaktu ujian, pikiranku jadi blank. Apa yang sudah dipelajari, kabur begitu saja dan sepanjang
ujian, aku hanya bisa mengarang indah mengisi lembar jawaban.

 

Masih banyak kejadian lain yang
disebabkan oleh sifat lupa. Seperti lupa meletakkan dompet, handphone, dan lupa
makan (hehehe). Untung saja aku tidak lupa identitasku. Kalau sampai lupa
dengan diri sendiri, mungkin aku akan sering bertanya kepada orang lain, ”Who
am I ?” dan tidak mungkin orang lain akan menjawab ”You are Spiderman.”

 

Sebenarnya, ada satu doa untuk
menghilangkan sifat lupa. Tapi, aku sendiri sering kali lupa untuk membaca doa
tersebut. Doa itu terdapat di QS. Al Baqarah : 286. Semoga saja nanti aku tidak
lupa lagi untuk membaca doa anti lupa ini.

 

Lalu, apa hubungannya sifat lupa
dengan lagu Kangen Band ? Jawabannya adalah lagu-lagu Kang
en Band adalah
pelipur lara untukku saat diri ini sudah merasa kalah dan malu karena sifat
lupa. Lumayan untuk refreshing. Lagu
Tentang Aku, Kau dan Dia serta Selingkuh tetap menjadi top hits bagiku. Aku
tahu, Kangen Band baru-baru ini mengeluarkan album baru, tapi aku belum sempat
untuk mencari album baru Kangen Band dalam format mp3.

 

Aku merasa simpati dengan Kangen Band
saat banyak orang yang mencaci-maki, menghina, mencela, dan melecehkan mereka.
Kenapa orang-orang banyak yang meremehkan mereka dan lebih menganggap dirinya
lebih baik dari Kangen Band ? Apakah sesama anak bangsa harus saling menghina,
melecehkan dan berlaku sombong terhadap sesama ? Padahal, tidak ada manusia
yang sempurna di dunia ini, semua manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya
masing-masing.

 

Al Quran menjelaskan dalam surat
Luqman ayat ke-18, ”Dan janganlah kamu
memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di
muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong lagi membanggakan diri
”. Sudah jelas, pemilik kehidupan ini tidak
menyukai orang-orang yang sombong. Azab untuk orang-orang sombong sendiri tidak
ringan, seperi yang dijelaskan diQ.S. Al Mu’Min : 76, ”Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam sedang kamu kekal di
dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong
”.
Masih banyak lagi ayat-ayat di dalam Al Quran yang membahas tentang orang-orang
yang sombong karena kesombongan adalah sifat yang sangat berbahaya dan dapat
merusak hubungan kita dengan Allah serta hubungan antar sesama manusia seperti
yang terjadi pada Fir’aun. Na’udzubillah.

Refleksi Singkat Perjalan Hidup : Hari Kemarin dan Hari Esok yang Lebih Baik

May 25th, 2008 by adiet-cynconize

20 tahun sudah aku berada di kehidupan dunia ini. Ya, 19 Mei 2008 menjadi hari yang bersejarah karena pada hari itu aku tepat berusia 20 tahun. Usia yang tidak lagi kecil. Sudah seperlima abad aku menjadi salah satu penghuni Planet Bumi.

Tidak terasa aku sudah berusia 20 tahun. Rasanya baru kemarin aku duduk di sekolah dasar untuk pertama kalinya, tapi itu sudah terjadi 14 tahun yang lalu. Dan kenyataannya, hari ini aku sudah kuliah di semester IV.

Banyak sekali cerita perjalanan hidup ini selama 20 tahun yang terlewatkan begitu saja tanpa sedikitpun catatan atau rekaman mengenai apa yang telah terjadi sekalipun itu adalah peristiwa yang bersejarah untuk hidupku. Ah, tidak ada gunanya menyesali apa yang telah terjadi.

Di Usia yang ke-20 tahun ini, aku ingin menjadi Adiet yang lebih baik dari sebelumnya. Aku ingin lebih dekat dengan Allah, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Aku ingin jadi lebih berpretasi dan lebih baik dalam menyelesaikan sesuatu dari sebelumnya. Aku ingin lebih bisa memaknai hidup ini dan lebih berarti dalam hidup. Aku ingin mengurangi atau bahkan menghilangkan kebiasaan-kebiasaan burukku, seperti keegoisanku. Aku ingin lebih bermanfaat bagi orang lain, terlebih untuk kedua orang tua dan keluargaku, aku ingin lebih mandiri dari sebelumnya. Aku ingin menjadi Adiet yang baru.

Tidak mudah memang mengubah apa yang telah ada di dalam hidup ini selama 20 tahun. Tidak semudah membalikkan telapak tangan, aku tahu itu. Tapi, tak ada salahnya berusaha untuk sesuatu yang lebih baik meskipun memakan waktu yang tidak sebentar. Aku tahu, segala sesuatu dalam diriku ini tidak akan berubah sampai aku sendiri yang merubah semua itu. Aku adalah sutradara untuk hidupku sendiri.

Satu lagi, keinginanku saat ini, karena sudah 20 tahun, aku ingin segera bertemu seseorang yang nantinya menjadi belahan hati dan jiwaku, seseorang yang menjadi teman hidupku dan selalu ada di saat aku senang dan susah. Seseorang yang akan bersamaku mengarungi samudera kehidupan. Mungkin orang itu sekarang berada di sekitarku dan aku tahu apa yang ku mau. Tapi biarlah Sang Maha Kuasa memainkan perannya dalam mendekatkannku dan dengan Sang Pujaan Hati, semoga saja seseorang yang saat ini berada dalam mimpiku benar-benar menjadi The Special One dalam hidupku (hehehehe… Sorry bgt klo agak gimana gitu..hehehe.. Just my dream, hehehe).

Satu hal yang bisa aku lakukan sekarang adalah bersyukur atas hidupku ini, bersyukur atas apa yang telah aku dapatkan, bersyukur atas semua anugerah terindah yang telah kumiliki selama ini. Lalu, berusaha untuk jadi lebih baik dari sebelumnya, menjadi manusia bercahaya yang memiliki nilai tambah positif dari orang lain.

Ya, semua itulah yang ingin aku usahakan dan aku dapatkan sekarang. Aku sangat berharap Allah dapat menjadi penolong bagiku untuk mewujudkan semua mimpi dan cita-citaku. Insya Allah, Allah akan menolongku karena Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mewujudkan mimpi-mimpi manisku menjadi kenyataan. Dan sekali lagi, agar all my dreams come true, aku berharap Allah dapat menjadi smart solutions untuk hidupku ini. Selain itu, aku sangat membutuhkan support dari keluargaku, sahabat-sahabatku, dan tentu saja dari The Special One, Sang Bidadari Impianku (hehehe, afwan, maaf).

Ya, aku harus terus menjaga semangatku untuk mewujudkan apa yang aku inginkan. Seperti yang diucapkan Arai, dalam buku Sang Pemimpi, ”Tanpa semangat dan mimpi, orang-orang seperti kita akan mati”, kalimat ini menjadi semacam motivasi bagiku untuk berusaha lebih baik lagi dalam setiap langkah kehidupan ini. Semoga semua mimpi-mimpi yang ada dalam diri ini dapat menjadi kenyataan. Amien….

I’ll Always be Nervous and Unable to Live In Peace

May 16th, 2008 by adiet-cynconize

Manusia selalu hidup dalam situasi yang selalu tidak bisa ditebak, meskipun manusia sering melakukan prediksi, tak jarang kenyataan yang terjadi justru berlawanan dari prediksi tersebut. Jika prediksinya gagal, banyak orang yang jadi patah arang. Tampaknya kita, sebagai manusia memang harus menjadi ahli Decision Making Under Uncertainty.

Hidup penuh dengan tantangan serta berbagai macam persoalan. Dan semakin hari, tantangan serta persoalan yang datang kepada hidup terasa bertambah besar. Berat memang, tapi semua ini adalah sebuah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari hidup seseorang.

Aku merasakan semua tantangan dan persoalan itu. Aku tidak berani mengatakan kalau selama ini aku berhasil melalui tantangan dan persoalan tersebut dengan baik. Aku juga malu jika harus mengatakan selama ini aku tak berhasil melalui semua itu dengan baik. Sebuah dilema ketika harus jujur dengan apa yang ada dalam hidup, bagai memakan buah simalakama.

Belakangan ini, persoalan yang dialamatkan untuk diriku terasa sangat rajin menghampiri. Aku tidak sadar, kalau persoalan-persoalan yang datang telah membuatku lebih jarang tersenyum dan membuat diriku lebih cenderung bersikap selfish. Persoalan tersebut sangat kompleks. Akibatnya, aku lebih sering terlihat murung. Seorang teman mencari tahu kenapa aku sering terlihat murung dan tak bersemangat. Ini ku ketahui setelah seorang kakak tingkat bertanya kepadaku, lalu aku hanya menjawab seadanya.

Melamun dan merenung adalah kebiasaanku dari dulu. Kebiasaan ini kulakukan kalau aku sedang mengalami suatu hal yang sangat mengganggu. Aku melamun dan merenung untuk mencari solusi dari persoalan yang sedang aku hadapi walaupun kebiasaan ini sering menjadi bahan tertawaan teman-temanku. Biarlah mereka tertawa, itu hak mereka. Tapi sekarang, lamunan dan renunganku saat ini tidak berpengaruh, kurang bisa diandalkan untuk memberikan solusi-solusi atas permasalahanku, malah berpotensi untuk membuat suatu persoalan baru.

Tak tahu kenapa kemampuanku dalam melamun dan merenung mengalami penurunan. Apakah ini ada hubungannya dengan faktor usia yang semakin bertambah. Ah, rasanya tidak, justru dengan bertambahnya usia, seseorang menjadi semakin dewasa dan bijak dalam menghadapi persoalan. Atau, ini ada kaitannya dengan kompleksnya persoalan yang aku hadapi ? Tapi, kenapa ada orang yang begitu mudah dalam menghadapi persoalan hidupnya ?

Ingin rasanya aku menyerah pada apa yang terjadi dengan hidupku saat ini. Di dalam diri ini juga pernah terbesit keinginan untuk menerima hidup ini apa adanya. Ya, dalam pikirku, bendera putih adalah obat yang mujarab untuk semua kepenatan ini.
Tapi, dalam lamunanku, aku teringat sebuah kata dalam buku Sang Pemimpi dari Andrea Hirata, “Tanpa semangat dan mimpi, orang-orang seperti kita akan mati.” Ya, itulah kata-kata yang diucapkan oleh tokoh Ikal dan Arai saat mereka sedang kehilangan semangat dan motivasi.

Teringat akan kata seseorang, bahwa ada seorang yang punya masalah lebih rumit dan lebih kompleks daripada masalahku tapi dia tidak pernah mengeluh. Tampaknya memang, aku tidak boleh mengeluh dan katakanlah tidak boleh terus menyalahkan keadaan.

Ya, apapun itu, sekarang aku sedang berusaha untuk bisa belajar mensyukuri hidup ini. Aku harus sadar, dalam hidup yang menurutku melelahkan ini, aku harus bersyukur bahwa aku masih beruntung daripada orang lain.

Semoga Allah selalu memberikan rahmat, ridho, dan kemudahan dalam mengarungi Samudera Kehidupan ini.

Suara Hati Seorang Ikhwan

May 14th, 2008 by adiet-cynconize

Suara Hati Seorang Ikhwan

June 2, 2007

Posted by epsdin in My
Heart.trackback

Wanita Suci,

Wanita Suci,
Mungkin aku memang tak romantis tapi siapa peduli ?
Karena toh kau tak mengenalku dan memang tak perlu mengenalku.
Bagiku kau bunga, tak mampu aku samakanmu dengan bunga terindah sekalipun,
Bagiku, manusia adalah makhluk yang terindah, tersempurna dan tertinggi.
Bagiku dirimu salah satu dari semua itu, karenanya kau tak membutuhkan persamaan.

Wanita Suci,
Jangan pernah biarkan aku menatapmu penuh, karena akan membuat ku mengingatmu.
Berarti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu.
Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku.
Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa, sesemangat mentari.
Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh lumpur.
Karena sesungguhnya dirimu kau terlalu suci.

Wanita Suci,
Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung.
Ada ingin tapi tak ada henti.
Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelabat selalu, meski ujung penutupmu pun tak berani kusentuh.
Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku karena sucimu kau pertaruhkan.
Mungkin kau tak peduli
Tapi kau hanya menjadi wanita biasa di hadapanku bila kau kalah.
Dan tak lebih dari wanita biasa.

Wanita Suci,
Jangan pernah kau tatapku penuh
Bahkan tak perlu kau lirikkan matamu untuk melihatku.
Bukan karena aku terlalu indah, tapi karena aku seorang yang masih kotor.
Aku biasa memakai topeng keindahan pada wajah burukku, mengenakan pakaian sutra emas.
Meniru laku para rahib, meski hatiku lebih kotor dari lumpur.
Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin kau termanipulasi.
Karena kau toh hanya manusia, hanya wanita.

problematika remaja

April 30th, 2008 by adiet-cynconize

Rasanya, masih segar ingatan di kepala ini ketika dulu, tiga orang adik kelas pengurus OSIS datang menghampiriku yang ketika itu sedang duduk di parkiran sekolah. Mereka datang dengan membawa sebuah handycam. Ternyata mereka ingin membuat sebuah film dokumenter sebagai persembahan untuk kakak kelas saat acara perpisahan siswa XII tahun 2006. Sebuah ide kreatif yang (mungkin) terinspirasi dari sebuah film.

Salah satu dari mereka lalu bertanya kepadaku, “Kak, permisi. Kak, menurut kakak, cinta itu apa?”

Dengan sedikit kebingungan karena yang ditanya adalah masalah cinta (coba tanya masalah hidrokarbon, bilangan oksidasi, persamaan linear, dan pola-pola hereditas, pasti jadi lebih bingung, hehehe), aku mencoba menjawab pertanyaan mereka dengan bijak.

“kalau menurut kakak, cinta itu adalah sebuah rasa yang membuat kita untuk terus melakukan sesuatu dan berkorban dengan sebaik mungkin serta sulit melepaskan hal-hal yang kita cintai dari diri kita, seperti cinta orang tua, cinta agama, dan cinta tanah air. Jadi, dengan perasaan cinta itu, kita akan beranggapan kalau orang tua, agama, dan tanah air adalah bagian dari hidup kita yang tidak bisa dilepaskan dari jiwa kita ini.”

Sedikit diplomatis memang. Dan mungkin saja mereka pada waktu itu kurang puas dengan jawabanku karena setelah menonton film hasil buatan adik-adik kelasku itu, aku baru tahu kalau cinta yang mereka maksud adalah cinta yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, cinta sepasang anak manusia yang masih remaja dan konon katanya sesuatu yang harus up to date serta menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan remaja modern. Sebuah anggapan yang timbul karena suksesnya perang pemikiran dari kaum Barat terhadap remaja Islam.

Dalam keseharian, tampaknya memang benar kalau remaja sekarang sudah dibebankan dengan tugas baru. Tugas itu adalah tugas yang berkaitan dengan masalah cinta terhadap lawan jenis. Dan sekali lagi memang benar kalau untuk hal yang satu ini sudah tidak bisa lagi dilepaskan dari jiwa para remaja kebanyakan.

Aku sendiri juga tidak tahu apa penyebabnya. Kenapa dunia remaja identik dengan virus pink. Jawabannya mungkin ada di buku Biologi untuk kelas XI atau XII SMA. Di buku Biologi tersebut mungkin disebutkan hal ini merupakan akibat dari pengaruh hormon yang diproduksi tubuh seseorang ketika berada dalam masa puber. Wallahualam

Sebenarnya, aku juga pernah atau bahkan sering merasa jatuh hati kepada seorang lawan jenis. Dari zaman SMP waktu film Kamen Rider Kuuga masih jadi trend sampai waktu kelas XII SMA ketika dunia sedang sibuk dengan berbagai macam prediksi negara mana yang akan jadi Juara Dunia Sepak Bola di Germany 2006. tapi, meskipun sering jatuh hati, aku tidak pernah sekalipun pacaran. Sebuah prestasi yang dipandang ironis oleh anak-anak gaul abad XXI.

Aku tahu, dalam perjalanan hidup ini, hidup yang berada dalam koridor Islam, tidak dikenal yang namanya pacaran. Karena pacaran itu mendekatkan kepada zina. Tapi, secara manusiawi, rasa kagum, rasa suka yang berujung dengan rasa cinta kepada lawan jenis adalah hal yang wajar. Tinggal bagaimana management kita terhadap perasaan tersebut agar kita tidak mencederai akidah yang dimiliki.

Waktu terus berlalu, dan pada hari ini setelah lama mengabaikan virus pink itu, secara otomatis dan tiba-tiba diriku kembali terjangkit virus tersebut. Ya, virus itu datang dan setiap detik semakin merusak jalan pikiranku. Bagaikan virus-virus yang menyerang komputer, dimana semakin hari virus-virus itu semakin kebal dengan antivirus, seperti sudah mendapat imunisasi dan siap mengacaukan serta merusak sistem pada komputer dalam waktu yang sangat singkat.

Perasaan ini telah memilih kepada seorang wanita yang tidak diduga-duga sebelumnya. Seorang wanita yang Insya Allah menjadi idaman para lelaki. Dia cantik, pintar, berakhlak baik, setidaknya begitulah menurutku, serta yang paling penting, dia menjaga auratnya dengan baik dari orang-orang yang bukan muhrimnya. Wanita seperti inilah yang membuat kaum adam kebanyakkan rela meng-outBond dirinya sendiri untuk mendaki puncak Everest dan menyelam di kedalaman Samudera Atlantik demi mendapatkan hati dari “wanita impian” tersebut.

Aku dihadapkan dengan situasi yang tidak bersahabat. Di satu pihak, aku harus melawan perasaan itu agar diriku tidak hanyut serta tidak terbuai dengan godaan-godaan yang sangat potensial untuk mengguncang iman. Di lain pihak, diriku mempunyai keinginan yang cukup kuat untuk bisa mendapatkan hati wanita itu. Aku tahu, tidak mungkin untuk berpacaran dan aku juga sudah memberi warning pada diriku sendiri untuk tidak berpacaran.

Seorang kakak tingkat berkata kepadaku, “wajar jika anda terus memikirkan dirinya, karena dia selalu berada di dalam pikiran anda lalu pikiran itu jatuh ke hati anda.” Secara psikologis tampaknya memang demikian. Aku terus berusaha untuk tidak mengikuti keinginanku ini karena aku tahu, jika aku terus mencoba untuk mengikuti keinginanku, maka hanya hal-hal negatif yang akan aku dapatkan.

Ada sesuatu yang sangat menggodaku ketika seorang teman memberikan solusi untuk masalah ini. aku hargai solusi itu, tapi menurutku, solusi itu adalah rencana jangka panjang, bukan rencana untuk saat ini. solusi itu adalah menikah. Dan di pandang dari sudut manapun, aku tahu kalau sekarang diriku ini belum mampu melakukan pernikahan, dan seperti sabda Rasullah SAW, “Barang siapa yang belum mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa karena puasa itu bisa menjadi benteng.”

Banyak sekali keraguan pada diri ini. Jujur, sampai detik ini aku sendiri masih bingung kenapa aku bisa jatuh hati kepada dia. Apakah perasaan ini memang karena Sang Pencipta atau hanya karena tertarik dengan kecantikan wanita itu saja ? hanya Sang Maha Kuasa yang tahu jawaban sesungguhnya.

Aku hanya bisa berdoa, meminta Allah memaafkan kesalahanku karena aku telah berpikiran seperti ini. Terkadang, dalam pikiranku yang nakal, aku meminta ada ridho dari-Nya untuk perasaanku ini sehingga Dia bisa mewujudkan impianku menjadi kenyataan. Astagfirullah…

Aku sadar, aku tidak boleh terus berlama-lama memikirkan hal ini karena masih banyak sesuatu yang harus kupikirkan, sesuatu yang lebih besar dan lebih bermanfaat untuk hidupku saat ini. Aku harus segera bangkit, bangkit untuk melakukan sesuatu yang lebih berarti. Sekaligus belajar untuk sabar dan ikhlas dalam menghadapi hal-hal seperti ini, karena Insya Allah ada waktu yang lebih tepat daripada sekarang untuk memikirkan hal ini dan merealisasikannya ke sesuatu yang lebih nyata. Ya, sekarang aku hanya bisa berpuasa, walau berpuasa itu tidak gampang, hingga waktu itu tiba.

Suara hati seorang mahasiswa

April 10th, 2008 by adiet-cynconize

Demi Masa, Sesungguhnya Manusia Berada Dalam Kerugian

(Q.S. Al Asr, 1-2)

Aku berlari, meninggalkan segala sesuatu yang selama ini menjadi keseharianku. Aku berjalan menjauhi orang-orang yang ku sayangi dan apa saja yang ku sukai. .

Aku berjalan menembus teriknya matahari dan dinginnya malam yang merasuki tulang rusukku. Aku berdiri ditengah kesunyian malam dalam kesendirianku. Dan aku terpejam bersama kesendirianku ditengah gelapnya malam hariku. Semua itu aku lakukan demi segala sesuatu yang lebih baik dari hari ini.

Hampir dua tahun sudah aku menyandang status mahasiswa. Sebuah status yang dipandang paling prestisius bagi anak-anak muda di negeri ini. Sebuah status yang konon hanya untuk orang-orang yang memiliki daya intelektualitas tinggi. Status yang diyakini dapat memberikan perubahan serta perbaikan bagi bangsa ini dan untuk yang satu ini, tampaknya sudah memberikan bukti nyata.

Aku merasa ada yang salah dengan diriku saat ini ketika aku menyandang status mahasiswa. Aku merasa belum menjadi seseorang mahasiswa ideal seperti yang sering didengungkan orang banyak. Aku merasa masih jauh panggang dari api. Tak tahu kenapa aku merasakan semua ini.

Hari demi hari yang ku lalui terasa berjalan datar-datar saja. Aku merasakan hidup ku “jalan di tempat” saat orang-orang di sekitar ku maju berjalan ke depan bahkan melakukan sprint terhadap perkembangan dirinya. Padahal, ada satu kata yang sangat bermakna, “jika hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia orang yang beruntung, jika hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia orang yang merugi, dan jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia orang yang celaka”. Aku merasa keberuntungan  belum datang kepadaku, aku merasa masih menjadi orang yang merugi bahkan mungkin orang yang celaka.

Aku sadar, sekarang aku menghadapi lingkungan yang sangat berbeda jauh dengan lingkunganku yang dulu, sebuah lingkungan yang mengarah pada hedonisme dan sedikit apatis. Dulu, lingkunganku sangat mendukung untuk bersantai-santai ria dan merasakan semua hal yang memberikan kenikmatan serta kepuasan.

Di lingkungan yang baru, aku tidak boleh terlena oleh hedonisme dan tidak boleh lagi bersikap apatis walaupun hanya sedikit. Sekarang, hidup ini penuh dengan perjuangan, dari bangun tidur hingga bangun lagi keesokan harinya adalah sesuatu yang harus didapatkan dengan penuh perjuangan. Bait lagu Bingkai Perjuangan dari Shoutul Harokah, “hidup ini adalah perjuangan, tiada masa tuk berpangku tangan” benar-benar menjadi sesuatu yang nyata.

Aku harus beradaptasi dengan lingkunganku yang baru dan itu telah aku lakukan. Tapi, sekali lagi aku merasa belum berhasil dalam beradaptasi. Apakah ini hanya masalah waktu? Kalau begitu, sudah hampir dua tahun aku mencoba untuk beradaptasi dan kenapa sampai sekarang belum juga tampak tanda-tanda perubahan itu?  Atau semua ini adalah indikasi dari ketidakmampuan diriku beradaptasi dengan lingkungan baru?

Aku memiliki sebuah kecenderungan. Mungkin sebuah kecenderungan yang aneh. Kecenderungan itu adalah saat aku berada di tengah lingkungan lama, aku berusaha untuk membuat suasana yang sama seperti lingkungan baru walaupun tidak 100 persen sama dan bahkan bisa jadi sedikit demi sedikit akan luntur. Tetapi di saat aku sedang berada di lingkungan baru, secara otomatis maupun manual, aku mengimplementasikan lingkungan lama di dalam diriku dan jika tidak dicegah, aku benar-benar terbawa oleh kebiasaan-kebiasaan seperti yang ada dalam lingkungan lamaku. Tapi aku selalu berusaha untuk mencegah diriku agar tidak terhanyut oleh kebiasaan-kebiasaan lamaku.

Apa yang terdapat di dalam Al Quran pada surat Ar Ra’d ayat 11 yaitu, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan mereka sendiri”, sepertinya benar-benar harus aku pahami dan aku implementasikan. Seperti yang dikatakan oleh para ustad, “kalau ingin hidup sukses selamat dunia dan akhirat, maka baca, pahami, dan terapkanlah ajaran Al Quran itu dalam kehidupan sehari-hari”. Aku akan terus berusaha untuk merekonstuksi semua keadaan ini. Aku berharap Allah akan menunjukkan jalan yang terbaik menuju hari esok yang lebih baik.

Masih ada  harapan untuk menjadi lebih baik. Peluang dan kesempatan itu masih terbuka lebar, tinggal bagaimana aku bisa memanfaatkan serta megoptimalkan peluang dan kesempatan itu. Aku sadar dengan semua itu. Let’s hope can be better now.

Kelelahan Tiada Henti…

March 22nd, 2008 by adiet-cynconize

Manusia tercipta karena bergerak, dan untuk bergerak, maka bergeraklah! Maka Dia akan bersama kita. (Ahli Hikmah).

Kata-kata di atas merupakan sebuah kata bijak yang bermakna cukup dalam. Setidaknya, itulah yang ana (saya) dapatkan dari buku Risalah Pergerakan Mahasiswa karangan Indra Kusumah. Dan jujur saja, sampai detik ini ana belum begitu mengerti dengan maka kata-kata bijak tersebut.

Bulan ini ana disibukkan dengan berbagai kegiatan. Mulai akhir Februari 2008, waktu istirahat ana di akhir pekan bisa dibilang sedikit sekali. Berbagai kegiatan dan acara pasti datang menghampiri di hari Jumat, Sabtu, dan Minggu yang semestinya menjadi hari-hari untuk melepaskan kelelahan. Ya, mungkin saja ini konsekuensi dari status mahasiswa… wallahualam

Satu-satunya weekend yang membuat ana cukup terhibur (setidaknya sampai hari ini) adalah awal bulan Maret 2008. saat itu, hari sabtu sebenarnya ana ada syuro (rapat) dengan teman-teman di BO. Ukhuwah, sebuah organisasi keislaman di FE Unsri untuk membahas masalah acara Seminar Akuntansi Syariah yang akan dilaksanakan teman-teman dari Ikatan Mahasiswa Akuntansi (IMA) FE Unsri dan Islamic Studies of Economics-Forum (ISEF) yang ana pimpin. Syuro yang dimulai pukul 10.45 ana tinggalkan sekitar 45 menit kemudian, memang ana waktu hari itu sebenarnya sedang kurang enak badan, sakit perut ana kambuh. Lalu ana kabur ke Palembang Indah Mall untuk nonton Ayat-Ayat Cinta..hehehehehehe. Keesokan harinya, ana berniat nonton All Stars Indonesia Basketball League (IBL), tapi rencana itu gagal, ana hanya menghabiskan waktu di Palembang Square, sekedar cuci mata dan merasakan hawa sejuk mall sampai akhirnya melihat seorang selebritis dengan mata kepala sendiri. Hanya saja, ana sedikit kecewa setelah lelah memenuhi amanah guru ana waktu SMA dulu, selebritis yang ana lihat itu bukan Krisdayanti, penyanyi yang suaranya ingin ana dengarkan langsung, bukan lewat televisi atau mp3, tapi hanya seorang Dimas Beck..huhuhuhu

Dan hari-hari berikutnya adalah hari-hari yang sangat melelahkan. Banyak sekali agenda dan amanah yang di alamatkan kepada ana. Ana tau, ana ga boleh mengeluh tapi jujur saja, sejak 1 bulan terakhir ana merasa jenuh dan bosan dengan rutinitas ana setiap hari yang orang-orang bilang adalah wajar dan manusiawi serta pasti dialami setiap orang.

Terkadang, ana juga punya waktu untuk istirahat di akhir pekan. Tapi sekali lagi, ada saja hal-hal yang bikin ana merasa tidak punya waktu istirahat. Ada saja SMS dan telpon dari seseorang yang bikin ana harus berpikir keras, tidak bisa santai.

Beberapa hari yang lalu ana merasa sangat lelah dan fisik ana sangat tidak fit. Bahkan di suatu hari, ingin sekali ana berteriak sekeras-kerasnya untuk melepaskan lelah dan beban pikiran karena muatan yang ada di kepala ana terasa sudah melebihi kapasitas. Ana takut ana terjangkit penyakit tipus (atau tipes ?) yang tentu saja akan sangat menghambat kegiatan sehari-hari.

Ana sadar ana tidak boleh mengeluh, ana harus semangat dan bangkit kembali. Ana harus melaksanakan amanat-amanat yang di alamatkan kepada ana. Andaikan saja ada seorang ukhti yang selalu memberikan support kepada ana, ana mungkin tidak akan merasa jenuh dengan rutinitas ana, hehehehehehe, afwan. Ana berusaha menikmati kelelahan ini dengan sebaik mungkin untuk perkembangan potensi diri.

Di penghujung bulan ini ana berencana untuk pulang ke Bengkulu. Kebetulan ada libur selama 4 hari, insya Allah cukup untuk melepaskan kelelahan dengan bertemu keluarga tercinta. kebetulan Ayah ana sedang pulang ke Bengkulu juga dari tempat tugasnya di Kupang , Nusa Tenggara Timur. Dan semoga kelelahan tiada henti itu pergi jauh-jauh dari diri ana dan berganti dengan semangat tiada henti. Amien….